Selamat Datang di Galeri Tenun Ikat Bandar
" ...Jika pujangga menciptakan puisi, masyarakat Indonesia menciptakan tenun ikat. Seperti halnya puisi yang sarat makna, tiap lembaran tenun ikat pun berusaha menyampaikan suatu kisahnya kepada kita semua di dunia. Dan, kisah masing-masing tenun ikat tidak sama satu sama lainnya. Tangan-tangan mungil nan cekatan mereka yang telah membuat tenun ikat bercerita beragam kisah... " Tenun Ikat

Perajin Tenun Ikat Di Pulau Rote-Ndao

Posted by : Admin , pada 26 December 2012

Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar

Tenun Ikat
Bagi perempuan pulau Ndao, Nusa Tenggara Timur, menenun kain seperti menjadi garis hidup. Menenun menjadi kewajiban yang sangat penting dalam tradisi mereka. Maka tak heran, jika secara turun temurun, perempuan dewasa mewarikan tradisi itu kepada anak perempuannya.

Wesly Fattu (30), pengrajian tenun ikat yang tinggal di RT 01, RW 02, Kelurahan Namodale Kabupaten Rote Ndao, mengaku keahlian yang dimilikinya berasal dari sang ibu yang asli warga Pulau Ndao, sebuah pulau kecil yang terpisah dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

“Sejak usia anak-anak biasanya anak gadis sudah mulai belajar menenun. Saya sendiri mulai lancar menenun sejak usia sembilan tahun. Tradisi di pulau Ndao memang begitu. Kegiatan menenun kain sama pentingnya seperti laki-laki mencari nafkah untuk keluarganya,” jelas Wesly Fattu.

Menariknya lagi, tradisi itu sampai sekarang masih dilakukan secara tradisional dengan mesin tenun sederhana yang terbuat dari kayu. Sehingga, corak kain yang dihasilkan pun sangat menarik dengan ornamen tali temali membentuk corak khas kehidupan warga timor. Karena coraknya saling terikat satu sama lain, kain hasil tenun itu disebut tenun ikat.

Kain tenun ikat khas pulau Ndao lebih banyak didominasi warna gelap, biru tua, dengan corak hiasan berwarna putih dan merah. Warna dan corak ragam hiasannya, menurut Wesly, mengandung banyak mitos terkait dengan kearifan budaya setempat, serta imajinasi kesederhanaan warga pulau Rote Ndao.

“Ini sudah jadi pekerjaan sehari-hari. Para perempuan Ndao baru menenun di waktu luang, setelah selesai memasak dan mengurus keluarga. Ini sudah jadi kebiasaan dan tradisi. Secara turun temurun, selesai memasak dan mengurus keluarga, wanitanya pasti memegang alat tenun,” terang ibu muda ini.

Wesly menjelaskan, proses menenun dimulai dari membuat benang dari kapas, mencetak motif, sampai pada tahap pencelupan benang ke dalam zat pewarna yang dibuat dari bahan alami seperti kunyit, akar mengkudu atau daun papaya. Disamping itu, proses lainnya adalah dengan memendam bahan pewarna ke dalam lumpur untuk menghasilkan warna yang mampu bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun.

Dengan sistem kerja tradisional seperti itu, diakui Wesly, membutuhkan waktu cukup lama. Untuk proses pewarnaan benang saja, waktu yang dibutuhkan bisa sampai dua atau tiga bulan. Semakin lama, menurutnya, hasilnya akan semakin bagus. Karena warna benang tidak akan cepat pudar. Sehingga ketika sudah menjadi kain, disimpan atau dikenakan pun warnanya tetap tetap kuat melekat.

Dari benang yang sudah diwarna, kemudian berlanjut ke pemintalan dengan ATBM atau alat tenun bukan mesin, yang biasa dipakai warga Rote Ndao untuk menenun. Proses ini juga tidak kalah lama dengan pewarnaan benang. Apalagi, tenunan yang motifnya rumit, seperti corak bunga-bungaan, perlu waktu lima sampai enam bulan pemintalan. Itu pun baru jadi satu lembar kain.

Di perkampungan pulau Ndao sendiri memiliki 60 Kepala Keluarga (KK) dengan profesi sebagai pengrajin tenun ikat tradisional. Diakui Maria, selama ini bantuan dari Ketua PKK kabupaten Rote Ndao, memang ada, tapi sangat terbatas.

Meski sulit berkembang, perempuan Ndao tidak putus asa dan berhenti memintal kain. Mereka tetap bekerja secara berkelompok. Dalam sebulan kelompok penenun itu mampu menghasilkan 20 unit kain ukuran besar yang dijual dengan harga Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. Selain kain tenun ikat, ibu-ibu itu juga menghasilkan kain selendang sebanyak 15-20 buah, dengan harga jual mencapai Rp 50 ribu - Rp 100 ribu.

Dari jumlah itu, hasilnya baru dibagikan kepada para pekerja, penjual dan juga untuk biaya membeli benang. Sehingga rata-rata penghasilan yang didapat sekitar Rp 300 ribu - Rp 500 ribu per orang.

Maria Hartono, ketua kelompok tenun ikat Janur Kuning di pulau Ndao mengatakan, untuk menambah penghasilan keluarga, para suami bekerja sebagai kuli bangunan atau sebagai pekerja serabutan.

“Di luar itu, ada kepala keluarga yang membawa keluarga hasil titipan orang lain untuk ikut bekerja dan memasarkan tenun ikat. Sehingga rata-rata para lelaki berjualan tenun ikat di luar pulau Rote-Ndao dan setiap tahun sekali baru pulang ke kampung,” terang Maria Hartono.
Jersey Kaos Batik Tenun Ikat Bandar Kediri Kuliner Prediksi Bola