Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar Tenun Ikat Bandar
Selamat Datang di Galeri Tenun Ikat Bandar
" ...Jika pujangga menciptakan puisi, masyarakat Indonesia menciptakan tenun ikat. Seperti halnya puisi yang sarat makna, tiap lembaran tenun ikat pun berusaha menyampaikan suatu kisahnya kepada kita semua di dunia. Dan, kisah masing-masing tenun ikat tidak sama satu sama lainnya. Tangan-tangan mungil nan cekatan mereka yang telah membuat tenun ikat bercerita beragam kisah... " Tenun Ikat

Kain Tenun Silungkang Sawahlunto

Tenun Ikat
Tenun atau menenun adalah proses pembuatan kain dengan anyaman benang pakan antara benang lungsi dengan menggunakan alat tenun yang terbuat dari kayu, tongkat, bambu dan logam. Dari proses ini akan diproduksi menenun kain dan songket. Songket merupakan salah satu produk tenunan Minangkabau yang terkenal oleh masyarakat dan memiliki kualitas tinggi, bukan hanya karena keindahan kilau benang emas dalam berbagai motif yang unik tetapi juga karena fungsi sosial sebagai alat kelengkapan kostum tradisional.

Songket berasal dari sungkit atau leverage yang cara untuk menambah benang pakan dan benang emas dalam berbagai pembuatan menghiasi dilakukan dengan menyulam benang lungsi. Bahan yang digunakan untuk tenun benang dari kapas, serat, sutra dan benang Macau (benang emas dan perak). Thread yang umumnya digunakan adalah impor luar negeri seperti India, Cina dan Eropa. Hiasan atau motif songket disebut Cukie, beberapa menggunakan Macau benang (benang emas dan perak), sutera dan katun berwarna. Sebuah keunikan songket Minangkabau yang lama ada adalah kombinasi dari dua atau tiga jenis benang dalam motif tunggal.

Salah satu yang terkenal penenun songket lokal di Minangkabau adalah Silungkang desa. Silungkang desa terletak di tepi jalan raya Sumatera sekitar 95 km dari selatan-timur Kota Padang. Desa ini juga terkenal dengan seni seperti kerajinan anyaman rotan, tongkat, bambu, sapu dan menenun. Songket dan sarung tangan tenunan Silungkang sudah terkenal di Sumatera Barat. Songket Silungkang juga dibuat secara tradisional, dengan alat tenun yang mirip dengan alat tenun di Pandai sikek tapi sedikit memiliki ukuran lebih besar dari alat tenun di Pandai sikek. Tenun tradisi di daerah ini umumnya dilakukan oleh perempuan dalam rumah mereka.

Tenun di Silungkang telah umum jenis Batabua, songket yang dihiasi tidak memenuhi bidang kain, dan dengan beberapa dasar songket sangat polos dan beberapa kotak. Motif tenunan Silungkang berasal dari lingkungan alami seperti rabuang pucuak, bunga, motif burung, sirangkak, Balah katupek dan lain-lain. Bentuknya cukup sederhana jika dibandingkan dengan songket Pandai sikek dan tidak begitu rumit dalam proses tersebut sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Dalam pengembangan tenun Silungkang saat ini ada juga kombinasi antara teknik tenun ikat dengan teknik songket dengan berbagai motif songket. Bahan yang digunakan hari ini kecuali kapas, ada juga telah dihias dengan benang sutra, benang Makau dan benang kapas berwarna. The Resultsof tenun Silungkang, kecuali pakaian yang dibuat ada juga kebutuhan untuk dekorasi dan aksesori lainnya. Sekarang, songket Silungkang memiliki kualitas yang cukup baik bahan, teknik manufaktur, motif dekoratif dan pemasaran, bahkan telah diproduksi juga mesin tenun dengan berbagai motif dan harga yang relatif murah. Silungkang juga dikenal sebagai pemasok lokal tenunan benang berwarna untuk kebutuhan penenun di Sumatra Barat.
(sawahluntokota.go.id)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Tenun Ikat Sengkang dalam Racikan Didiet Maulana

Tenun Ikat
Kekayaan tenun ikat tak habis-habisnya dieksplorasi oleh Didiet Maulana. Di panggung Plaza Indonesia Fashion Week 2013, desainer yang pernah menempuh pendidikan di bidang arsitektur ini kembali mengangkat keindahan kain tenun ikat sutra dari Sengkang, Makassar, Sulawesi Selatan.

"Tenun Sengkang ini dipilih karena belum banyak dieksplor, dan punya teknik pembuatan yang indah," ungkap Didiet Maulana setelah fashion show-nya di Plaza Indonesia, Senin (25/3/2013) lalu.

Dalam fashion show kali ini Didiet menampilkan koleksi Pra Purnama, yang mirip dengan koleksi Fall/Winter di luar negeri. Hanya saja, karena Indonesia bukan negeri empat musim, Didiet memutuskan untuk membuat sendiri "musim-musim" untuk koleksinya, yaitu Purnama dan Mentari. Keindahan purnama dihadirkan Didiet dalam variasi warna yang romantis, antara lain oranye, ungu, pink, hitam, dan coklat.

Didiet menambahkan bahwa kreasi busana ini terinspirasi dari bentuk dan gerak perempuan Indonesia yang dinamis dan aktif. Rancangannya bergaya simpel namun tetap elegan. Cutting-nya bernuansa androgyny, seperti kemeja, jaket, dan celana panjang. Untuk busana perempuan Didiet menghadirkan kesan glamor pada gaun cocktail dan gaun malamnya, juga busana formal untuk bekerja.

Tenun Ikat
Didiet banyak menghadirkan pared down, yaitu memadupadankan 2-3 busana terpisah dengan motif sama sehingga tampak seperti satu rangkaian busana. Misalnya memadukan celana panjang dengan blazer berbahan dan motif yang sama.

Untuk kesan lebih modern, Didiet menghadirkan motif tenun yang lebih besar dibanding aslinya.

"Motifnya sendiri tidak diubah, tetapi saya minta kepada perajin untuk memperkayanya dengan warna-warna sesuai keinginan saya, dan ukuran motifnya diperbesar," jelasnya. Motif yang digunakan adalah motif geometris zig-zag dengan aneka warna.

Tenun Sengkang ternyata sangat menarik untuk material busana pria. Beberapa koleksi Didiet juga menampilkan busana pria berupa jaket, kemeja, dan celana panjang. Ia menggabungkan beberapa bahan seperti linen, sutera, taffeta, dan lace dengan tenun Sengkang.

Sedikit berbeda dengan koleksi perempuan, busana pria dihadirkan dengan warna yang lebih gelap seperti hijau tua, abu-abu, dan hitam. "Ketika membuat baju pria ini dasar pertimbangannya adalah apakah mereka mau memakainya? Pria tidak suka baju yang terlalu tabrak pola dan warnanya ngejreng," tutupnya.
(kompas.com/dini)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Koleksi Tenun Didiet Maulana Untuk Boneka Barbie

Tenun Ikat
Anak perempuan biasanya suka bermain boneka Barbie karena bisa menggonta-ganti bajunya, dari gaun mini hingga gaun malam. Selain itu juga memadupadankan warna dan aksesori. Kini, main boneka Barbie makin seru karena tersedia baju yang menggunakan kain tradisional seperti tenun ikat.

Inilah yang terjadi ketika desainer Didiet Maulana lewat Ikat Indonesia bekerjasama dengan Mattel Inc., produsen Barbie. Baru-baru ini, dia mendapat kesempatan besar untuk mendandani boneka Barbie yang sudah kadung terkenal sebagai boneka cantik berskala internasional tersebut.

Langkah Didiet ini mengikuti sejumlah desainer dunia yang lebih dahulu mendandani Barbie, seperti Oscar de La Renta, Christian Dior, Givenchy, Armani, dan Karl Lagerfeld. Di tangan Didiet, boneka-boneka itu lalu mengenakan gaun yang terbuat dari padu padan tenun Sengkang Makassar dan Blongsong Palembang yang sangat khas Indonesia.

"Dengan tema Barbie Loves Indonesia, koleksi ini bisa turut mempopulerkan kain nusantara ke dunia internasional, dan sekaligus mendekatkan kain tradisional ke anak-anak generasi penerus Indonesia sendiri," tutur Didiet.

Koleksi yang dinamakan Barbie Special Designed by Ikat Indonesia itu turut diperagakan dalam peresmian Barbie Store Indonesia yang berlokasi di Mall Kelapa Gading 3, Jakarta Utara, akhir Mei lalu. Dalam peragaan busana, Didiet tidak hanya menghadirkan boneka Barbie dengan busana tenun, tapi turut membuat busana yang sama dalam ukuran besar dan dibawakan oleh sejumlah model.

Ada 12 koleksi baju Barbie yang dirilis Didiet. Semuanya didominasi warna cerah dengan siluet simpel, seksi, dan feminin yang direpresentasikan dalam busana yang kasual, gaun cocktail, dan gaun malam. Padu padan tenun dan ciri khas desain Didet menjadikan boneka-boneka itu tampil sangat khas Indonesia, meski masih berambut pirang.

Untuk busana kasual, Didiet merancang blus atau kaos dengan padu padan celana pendek dan panjang warna senada. Pada busana cocktail, ada mini dress atau padu padan blus dan rok yang menjadikan Barbie tampil lebih feminin.

Kain tenun Sengkang Makasar menjadi mencolok ketika dibuatkan gaun malam dengan rok yang mengembang. Begitu juga Blongsong asal Sumatera Selatan yang tampil melekat dengan padu padan warna yang cantik. Potongan di bagian dada yang rendah atau gaun tanpa lengan khas Barbie menjadi tampil beda ketika hadir lewat corak tenun yang khas. Sebagai penambah detail, ada manik-manik di bagian dada yang memberi kesan unik tersendiri.

Koleksi Barbie ini masih dalam pembuatan yang terbatas. Didiet mengungkapkan bahwa kolaborasi Barbie dengan desainer Indonesia baru pertama kali terjadi. Ia berharap koleksinya bisa masuk dalam koleksi Barbie dunia, sehingga pesan busana dan kain tradisional khas Indonesia juga bisa dilirik oleh publik internasional.
(kompas.com/dini)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Pesona Tenun Ikat Bali / Endek Bali

Tenun Ikat
Sekitar dua puluh tahun lalu tenun ikat Bali (”endek”) merajai pasaran lokal. Seiring waktu dan rontoknya penenun di daerah pariwisata ternama itu, sejumlah alat tenun bukan mesin di rumah-rumah kerajinan pun dipensiunkan.

Itu dulu. Kini sejumlah rumah mode di Denpasar bangga menggerai tenun ikat. Jenis kain ini kembali menjadi tren pasaran kain. Ia hadir kembali menjadi primadona. Cantik, modis, trendi, dan yang terpenting bervariasi.

Endek tak hanya dipakai dalam ajang peragaan busana seperti di panggung Pesona Tenun Ikat Denpasar. Endek juga menjadi pembalut tubuh dalam aktivitas keseharian para karyawan di seputar Denpasar.

Gencarnya promosi Pemerintah Kota Denpasar untuk membantu perajin-perajin agar kembali bersemangat dan bangga pada tenun ikat sendiri pun mulai terasa hasilnya. Sayangnya, keriaan itu belum sepenuhnya. Rumah-rumah kerajinan tenun ikat yang masih bertahan dari keruntuhan kini malah kewalahan melayani pesanan. Sebelumnya setidaknya di kota ini terdapat 150 perajin tenun ikat endek.

Tak hanya itu. Penjahit-penjahit pakaian jadi pun kelabakan karena stok kain menipis. Sementara keberadaan penenun tenun ikat belum bisa melakukan regenerasi. Anak muda lebih suka memilih menjadi karyawan ketimbang duduk berjam-jam menenun lembaran kain endek. Endek Pulau Dewata memang tak berbeda pembuatannya dengan tenun ikat di daerah lain di Indonesia. Hanya motif yang membedakannya.

Tenun ikat merupakan pertemuan benang pakan (horizontal) dengan benang lusi (vertikal). Benang pakan ini yang menjadi inti tenun endek. Prosesnya pun panjang. Semakin rumit motif, semakin banyak ikatan (bebedan), semakin lama prosesnya, semakin mahal pula harga kainnya.

Pengamat kain dan kolektor kain tenun serta dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Anak Agung Ngurah Anom Mayun Konta Tanaya, menjelaskan bahwa pada zaman kerajaan masih berjaya, kain tenun begitu eksklusif. Dengan motif dan bahan benang, baik untuk tenun songket maupun endek, lanjutnya, kain itu bisa membedakan status si penggunanya.

Pada tenun songket, motif hewan seperti singa dan naga dengan menggunakan benang emas itu serasa mutlak milik seorang raja. Begitu juga endek. ”Hanya keluarga puri dan orang kaya saja biasanya bisa memakai endek dan songket. Tapi, sekarang, siapa pun bisa memakainya. Mari ambil hikmahnya, sementara ke sampingkan makna motif bahwa bisa kembali diminati masyarakat, terutama endek, itu sudah bagus,” ungkap Ngurah Tanaya.

Pada tahun 1970-an, kerajinan tenun ikat AAA, milik almarhum ayah dan ibu Ngurah Tanaya, merupakan yang pertama di Kota Denpasar. Semenjak kedua pasangan itu meninggal, kerajinan itu pun surut dan bangkrut. Perajin-perajin tahun 1980-an yang menikmati masa kejayaan endek dan masih bertahan hingga kini tinggal beberapa. Sebut saja beberapa nama seperti Sekar Jepun, Putri Ayu, dan Bali Nusa.

Etmy Kustiyah Sukarsa, pemilik kerajinan tenun ikat Sekar Jepun, bangga dirinya masih bertahan dari naik-turunnya peminat endek. Kini ia kewalahan. ”Orderan perkantoran, terutama perbankan, mengalir terus ratusan jumlahnya. Padahal, penenun saya juga terbatas. Tetapi, mereka (pemesan) ngotot ingin Sekar Jepun yang menenun,” tutur istri ahli kalender Bali, (alm) Ketut Kebek Sukarsa.

Ia mengakui, tenun ikat produknya memiliki desain sendiri. Ia pun mengaku terpaksa keluar dari motif-motif biasanya. Menurutnya, ini menjadi momentum meraih kembali kejayaan masa lalu. Oleh karena itu, Etmy bertekad harus bisa berkreasi lebih dari yang lalu.

”Saya tidak mau endek tenunan Sekar Jepun biasa saja. Saya mau ada kreasi dan seni yang terus berkembang. Endek harus bisa modern dan gaya, terutama untuk perempuan,” ujarnya.

Soal warna, Ngurah Tanaya mengatakan, pada tahun 1980-an itu motif masih seputar bunga dan binatang, termasuk warna justru cerah. Sayangnya, kain endek masa lalu itu bisa luntur sehingga tak bisa dicuci jika ingin warnanya bertahan. Hanya diangin-anginkan saja.

Sekarang, bagi Etmy, tidak ada lagi cerita endek itu luntur dan tak bisa dicuci. Ia terus bereksperimen dengan benang-benang terbaik dan pewarna yang andal. Memang, satu kain berukuran panjang 2,25 meter x 90 sentimeter tersebut bisa diselesaikan dalam dua minggu dengan motif tak terlalu rumit. Namun, semua bahannya berasal dari luar Bali. Harga per kainnya pun bervariasi, yaitu mulai dari Rp 300.000 hingga lebih dari Rp 1 juta.

Entakan tangan sang penenun juga menjadi pertaruhan eksklusivitas selembar kain. Kerapian motif dan barisan benang lusi-pakan menjadi jaminan keindahan. Benangnya pun bisa semahal sutra.

Kini, modifikasi endek dengan bordir serta penambahan manik-manik pun menjadi tren. Bahkan, variasi produk tak berhenti pada dompet dan tas saja, tetapi juga aksesori seperti bros dan jepit rambut. Tak tanggung-tanggung, Ni Made Mas Sriwahyuni, penjahit kenamaan endek Edelweiss di Denpasar, memadu padan baju endek dengan songket.

Bagaimana responsnya ? Sejumlah masyarakat menerimanya. Bukan hanya perkantoran, anak-anak sekolah pun pada hari Jumat tak canggung pakai baju endek seperti SMA Negeri 4 Denpasar.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Denpasar Selly Rai Mantra Dharmawijaya menegaskan, promosi gencar-gencaran soal tenun ikat atau endek ini bukan untuk menyaingi batik, tetapi agar generasi muda tak lupa dengan kain-kain yang terlahir dari daerahnya sendiri. ”Bali ini pulau yang berbudaya. Malu rasanya jika kita tak terlibat untuk melestarikan apa yang lahir dari orangtua kita. Ya salah satunya, endek ini,” tegasnya.

Bagaimanapun, kain begitu dekat dengan keseharian serta kehidupan masyarakat Pulau Bali. Semenjak dalam kandungan, kelahiran, upacara keagamaan, hingga kematian, kain begitu dekat dan melekat. Jika tenun ikat atau endek saja dulu bisa berjaya, mengapa tidak untuk saat ini.
(Ayu Sulistyowati/Kompas)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Keindahan Tenun Ikat Sengkang oleh Didiet Maulana

Tenun Ikat
Kekayaan tenun ikat tak habis-habisnya dieksplorasi oleh Didiet Maulana. Di panggung Plaza Indonesia Fashion Week 2013, desainer yang pernah menempuh pendidikan di bidang arsitektur ini kembali mengangkat keindahan kain tenun ikat sutra dari Sengkang, Makassar, Sulawesi Selatan.

"Tenun Sengkang ini dipilih karena belum banyak dieksplor, dan punya teknik pembuatan yang indah," ungkap Didiet Maulana setelah fashion show-nya di Plaza Indonesia, Senin (25/3/2013) lalu.

Dalam fashion show kali ini Didiet menampilkan koleksi Pra Purnama, yang mirip dengan koleksi Fall/Winter di luar negeri. Hanya saja, karena Indonesia bukan negeri empat musim, Didiet memutuskan untuk membuat sendiri "musim-musim" untuk koleksinya, yaitu Purnama dan Mentari. Keindahan purnama dihadirkan Didiet dalam variasi warna yang romantis, antara lain oranye, ungu, pink, hitam, dan coklat.

Didiet menambahkan bahwa kreasi busana ini terinspirasi dari bentuk dan gerak perempuan Indonesia yang dinamis dan aktif. Rancangannya bergaya simpel namun tetap elegan. Cutting-nya bernuansa androgyny, seperti kemeja, jaket, dan celana panjang. Untuk busana perempuan Didiet menghadirkan kesan glamor pada gaun cocktail dan gaun malamnya, juga busana formal untuk bekerja.

Tenun Ikat
Didiet banyak menghadirkan pared down, yaitu memadupadankan 2-3 busana terpisah dengan motif sama sehingga tampak seperti satu rangkaian busana. Misalnya memadukan celana panjang dengan blazer berbahan dan motif yang sama.

Untuk kesan lebih modern, Didiet menghadirkan motif tenun yang lebih besar dibanding aslinya.

"Motifnya sendiri tidak diubah, tetapi saya minta kepada perajin untuk memperkayanya dengan warna-warna sesuai keinginan saya, dan ukuran motifnya diperbesar," jelasnya. Motif yang digunakan adalah motif geometris zig-zag dengan aneka warna.

Tenun Sengkang ternyata sangat menarik untuk material busana pria. Beberapa koleksi Didiet juga menampilkan busana pria berupa jaket, kemeja, dan celana panjang. Ia menggabungkan beberapa bahan seperti linen, sutera, taffeta, dan lace dengan tenun Sengkang.

Sedikit berbeda dengan koleksi perempuan, busana pria dihadirkan dengan warna yang lebih gelap seperti hijau tua, abu-abu, dan hitam. "Ketika membuat baju pria ini dasar pertimbangannya adalah apakah mereka mau memakainya? Pria tidak suka baju yang terlalu tabrak pola dan warnanya ngejreng," tutupnya.
(kompas.com)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Sulam Bordir Tasikmalaya di Koleksi Terbaru IKAT Indonesia

Tenun Ikat

Belum lama berselang sejak menampilkan koleksi busana pengantin berbahan Songket Palembang di sebuah acara wedding fair, Didiet Maulana kembali merilis karya terbarunya. Kali ini untuk IKAT Indonesia by Didiet Maulana, yang ditampilkan di Fountain Lounge Grand Hyatt Hotel, Thamrin, Jakarta, Kamis (28/02/2013).

Didiet menampilkan sekitar 25 busana ready to wear, termasuk lima koleksi bridal. Fashion show dimulai dengan busana yang didominasi palet pastel. Kombinasi antara tenun, sulam dan bordir Tasikmalaya ditampilkan melalui busana dengan ragam hias floral.

Selain bahan dari Tasikmalaya, tenun sutra sengkang dari Makassar dengan warna lebih cerah dan beraneka ragam juga dia hadirkan. Selain busana siap pakai, desainer yang memulai karirnya sebagai PR di industri retail ini juga menyuguhkan koleksi terbaru SVARNA. Label ini merupakan first line dari IKAT Indonesia yang lebih fokus pada koleksi evening wear dan bridal berjumlah terbatas.

"Ambience masih di koleksi spring/summer, itulah kenapa saya banyak mengangkat warna pastel. Selain itu masih jarang kain Indonesia yang memakai warna pastel, jadi saya buat khusus beberapa pieces dengan warna ini," ungkap Didiet saat wawancara dengan wolipop mengenai konsep busananya.

Desainer kelahiran 1981 itu juga mengungkapkan koleksi ready to wear dari kain khas Indonesia ini bertujuan untuk mengubah stigma masyarakat bahwa kain tenun tidak hanya bisa digunakan untuk acara formal.

"Saya ingin membuat kain Indonesia jadi busana sehari-hari di negeri ini, jadi pemakaiannya juga tidak terbatas, karena masih banyak orang yang ketika melihat orang pakai pakaian tradisional malah ditanya 'habis ke kawinan?' seperti itu," tutupnya.
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Tenun Timor Hiasi Koleksi Auguste Soesastro di IFW 2013

Tenun Ikat

Hari pertama Indonesia Fashion Week, pagelaran busana tidak hanya diisi oleh Ivan Gunawan. Nama desainer ternama lain seperti Auguste Soesastro dan Jeanny Ang turut memeriahkan panggung mode.

Pagelaran dua desainer yang didukung oleh P&G itu diadakan di ruang Plenary Hall, JCC Senayan, Jakarta, Kamis (14/2/2013). Pertunjukan pertama dimulai dengan dinginnya musim dingin, dalam koleksi Fall/Winter AUguste Soesastro.

Membawakan rancangan dari lini utamanya, Kraton, Auguste menggunakan bahan tenun dari Indonesia dalam rancangannya. Tenun yang dipakainya berasal dari daerah Ayotupas, Timor bagian Barat. Adapula teknik batik yang digunakan, berupa atasan dan syal terbuat dari bahan silk yang halus.

Karya dari Auguste didonimasi warna-warna musim dingin seperti abu-abu, hitam, dan navy. Di akhir shownya, pria yang mengambil sekolah fashion di Paris itu juga menampilkan koleksi gaun malam maxi dengan potongan minimalis. Beberapa di antaranya menggunakan warna terang seperti fuschia dan merah.

Berbeda dengan koleksi Auguste yang edgy, Jeanny Ang memberikan suguhan koleksi musim panas yang bergitu feminin dan ceria. Dengan konsep "Blossom", Jeanny banyak bermain dengan warna terang seperti fuschia, kuning, biru, toska, oranye dan merah. Untuk bahan, ia terlihat menggunakan bahan ringan seperti syifon, organza dan juga lace.

Koleksi Jeanny diisi dengan model dress bertumpuk atau layer serta atasan model peplum yang asimetris, sehingga menimbulkan kesan seperti kelopak bunga khas musim semi. Tube dress dengan rok yang bertumpuk serta paduan warna neon menjadi garis besar dari konsep "Blossom" ini.
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Tenun Motif Floral dari Ikat Indonesia

Tenun Ikat
Semakin banyak perancang yang bertekad mengeksplorasi kain tradisional Indonesia.

Didiet Maulana adalah salah satu yang tetap konsisten dalam memasyarakatkan tenun ikat menjadi busana siap pakai.

“Saya ingin tenun menjadi lebih sering dikenakan orang Indonesia. Semakin banyak permintaan kain tenun, maka perputaran uang ke perajin semakin cepat,” ujar Didiet, sesaat sebelum fashion show-nya di Fountain Lounge Grand Hyatt Hotel, Thamrin, Jakarta, Kamis (28/2/2013) lalu.

Didiet menampilkan 25 busana ready to wear. Show dimulai dengan busana yang didominasi palet warna pastel. Kombinasi antara tenun, sulam, dan bordir Tasikmalaya ditampilkan melalui busana dengan ragam hias floral.

“Saya sengaja memilih palet warna pastel karena masih jarang kain tenun dengan warna pastel. Pewarnaan adalah hal yang saya beri pengaruh kepada perajin agar hasil tenunannya lebih modern dan disukai pasar,” ujar Didiet, yang mengaku motif floralnya juga terinspirasi oleh keindahan alam dan bunga-bunga dari Indonesia Timur.

Didiet mengatakan, baru-baru ini ia travelling ke Ambon, Pulau Seram, dan Makasar. Hasil dari perjalanannya tersebut membuahkan koleksi busana yang feminin tapi kuat. Garis desainnya tetap konsisten dengan gaya Ikat Indonesia yang memang mengedepankan rancangan yang simpel.

Didiet tetap menggunakan motif tenun tradisional perajin Klungkungan dan Denpasar, Bali, juga perajin tenun dari sengkang, Makasar. "Motif tetap tradisional; saya hanya memberi masukan tentang pemilihan kapas, palet warna yang sedang tren, serta hanya bermain skala. Ada motif-motif tertentu yang saya minta diperbesar atau sebaliknya dikecilkan," paparnya.

Selain tenun ikat Bali, Didiet juga menggunakan bahan tenun sutra sengkang dengan warna lebih cerah. Selain busana siap pakai, pada acara high tea fashion itu Didiet juga menyuguhkan koleksi terbaru Svarna. Svarna tak lain first line dari Ikat Indonesia yang lebih fokus pada koleksi bridal dan diproduksi dalam jumlah terbatas.
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Ivan Gunawan Sulap Tenun Sutra Mandar Jadi Glamor

Tenun Ikat

Perancang mode Ivan Gunawan untuk pertama kalinya menggarap kain tradisional berupa tenun Mandar, Sulawesi Barat, untuk beragam koleksi gaun cocktail dan gaun malam yang modern, playful, dan glamor.

Koleksi yang merupakan hasil dari perjalanan Ivan ke Mandar, Sulawesi Barat, itu diberi tema Malolo. Terdapat hampir 50 set busana yang diperagakan pada hari pertama Indonesia Fashion Week 2013 di JCC, Kamis sore (14/2).

Pada hari pertama IFW ini, tema peragaan busana yang ditampilkan adalah aneka busana cocktail dan gaun pesta. Sementara IFW akan berlangsung sampai 17 Februari dan setiap harinya diadakan peragaan busana dengan tema yang berbeda-beda.

“Ini pertama kalinya saya berkecimpung di tenun kain tradisional kain Mandar,” kata Ivan.

Pada peragaan tersebut, Ivan membedakannya dengan tiga kelompok. Kelompok pertama Ivan mengolah kain tenun sutra dipadukan dengan bahan lace menjadi gaun yang modern, glamor, dan mewah dengan kombinasi warna cerah.

Setelah itu, Ivan mengaplikasikan motif kain tenun itu dalam bentuk printing yang digabungkan dengan bunga. Penampilan busana tampil glamor dengan bahan-bahan yang melayang dan ditambah sentuhan kristal.

Pada peragaan tersebut, Ivan mendapatkan banyak apresiasi dari para undangan baik itu berupa buket bunga atau pun tepuk tangan. (Kabar24/aw)
Jersey Kediri Batik
Info Lengkap

Kain Motif Ceplok Merah Bata - model : TIK-02

Etalase Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kediri
NAMA PRODUK : Kain Tenun Ikat Kediri
MODEL : TIK-02
MOTIF : Ceplok
WARNA : Merah Bata Kombinasi Kuning
HARGA : Rp 150.000,-
STOCK : Tersedia


INFO PRODUK :
- Bahan terbuat dari Catton Combad Grassed Mercerised
- Kainnya berasa dingin di kulit
- Kainnya halus dan bisa menyerap keringat
- Zat warna sangat kuat dan tidak luntur
- Ukuran : 95 cm x 250 cm
- Berat : 250 gr

SEKILAS TENTANG KERAJINAN TENUN IKAT BANDAR KIDUL :
Kain tenun ikat Bandar Kidul merupakan hasil kerajinan masyarakat dan merupakan produk kebanggaan warga Kota Kediri. Produk ini juga sebagai oleh-oleh khas Kediri. Desa Bandar Kidul, Kediri, merupakan sentra kerajinan tenun ikat sejak beberapa puluh tahun sebelum jaman kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak awal munculnya pengrajin tenun, hingga sekarang para perajin tenun ikat Bandar Kidul masih menggunakan peralatan tradisional sederhana dan manual yang dirakit menggunakan kayu atau biasa disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Saat menenun tangan dan kaki para pengrajin bergerak secara manual, sehingga terjadi gesekan antara kayu dan menghasilkan keindahan suara tersendiri. Suara yang terasa akrab dengan masyarakat Bandar Kidul, serta menggambarkan masih adanya semangat untuk berkarya demi mempertahankan dan memperkaya khasanah budaya nusantara.
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Kain Motif Ceplok Merah Bata - model : TIK-01

Etalase Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kediri
NAMA PRODUK : Kain Tenun Ikat Kediri
MODEL : TIK-01
MOTIF : Ceplok
WARNA : Merah Bata
HARGA : Rp 150.000,-
STOCK : Tersedia


INFO PRODUK :
- Bahan terbuat dari Catton Combad Grassed Mercerised
- Kainnya berasa dingin di kulit
- Kainnya halus dan bisa menyerap keringat
- Zat warna sangat kuat dan tidak luntur
- Ukuran : 95 cm x 250 cm
- Berat : 250 gr

SEKILAS TENTANG KERAJINAN TENUN IKAT BANDAR KIDUL :
Kain tenun ikat Bandar Kidul merupakan hasil kerajinan masyarakat dan merupakan produk kebanggaan warga Kota Kediri. Produk ini juga sebagai oleh-oleh khas Kediri. Desa Bandar Kidul, Kediri, merupakan sentra kerajinan tenun ikat sejak beberapa puluh tahun sebelum jaman kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak awal munculnya pengrajin tenun, hingga sekarang para perajin tenun ikat Bandar Kidul masih menggunakan peralatan tradisional sederhana dan manual yang dirakit menggunakan kayu atau biasa disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Saat menenun tangan dan kaki para pengrajin bergerak secara manual, sehingga terjadi gesekan antara kayu dan menghasilkan keindahan suara tersendiri. Suara yang terasa akrab dengan masyarakat Bandar Kidul, serta menggambarkan masih adanya semangat untuk berkarya demi mempertahankan dan memperkaya khasanah budaya nusantara.
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Tips Merawat Kain Tenun Ikat Agar Awet

Tenun Ikat


Sebagian orang sangat gemar mengoleksi kain tenun ikat, baik untuk dijadikan pakaian, atau hanya sekadar memiliki karena motif dan warnanya yang menggoda. Kain tenun ikat bila tidak dirawat dengan baik bisa cepat rusak, warnanya pudar, atau robek karena digigit serangga atau pemakaian yang tidak hati-hati.

Mungkin tips cara merawat kain tenun ikat ini bisa dijadikan panduan untuk Anda yang gemar mengoleksi kain tenun ikat, agar kain tetap tahan lama.

Pertama, yang terpenting tenun harus bebas dari debu. Karena debu layaknya gunting, dapat memotong serat-serat kain hingga kain rusak. Nah untuk menghidari kain dari debu, kain harus disimpan ditempat yang benar-benar bersih.

Kedua. Kain tenun ikat sebaiknya digulung, dibungkus kertas bebas asam, lalu ditutup lagi dengan kain. Hal ini terutama untuk kain yang telah dipakai jangan disimpan dengan dilipat. Pasalnya kalau dilipat akan ada bekas lipatan di kainnya.

Ketiga. Selain debu, kerusakan tenun ikat juga harus dihidari dari jamur dan serangga. Maka, untuk menjaga tenun ikat, suhu ruangan juga diperhatikan, yaitu antara 22-25 C dengan kelembaban 60 derajat.

Keempat. Faktor cahaya juga mempengaruhi terhadap ketahanan tenun. Jadi jangan biarkan tenun terkena cahaya terlalu sering dan terang.

Kelima. Mencuci tenun pun juga ada aturannya. Kalau bisa jangan dicuci atau diangin-anginkan saja kalau nggak kotor. Jika memang tenun sangat harus dicuci, disarankan agar jangan menggunakan bahan kimia, seperti deterjen dan sabun cuci. Tenun ikat bisa dicuci dengan klerek, bahan alami khusus untuk mencuci tenun ikat. Atau jika sulit menemukan klerek, bisa diganti dengan shampo bayi yang mengandung kadar kimia rendah.

Jersey Kaos Batik Video
Info Lengkap

Sarung Tenun Goyor Bandar Kidul Kediri

Tenun Ikat
Bandar Kidul Kediri adalah salah satu desa yang ada di kota Kediri tepatnya di sebelah barat sungai Brantas. Desa ini mempunyai keistimewaan dibanding desa lainnya yang ada di kota Kediri karena desa ini mempunyai keunggulan untuk memproduksi sarung tenun goyor. Yang paling menariknya lagi sarung buatan desa Bandar Kidul ini dibuat dengan cara tradisional tanpa menggunakan mesin pabrik, atau sering terkenal dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Sarung goyor, sebagian orang mungkin asing mendengar kerajinan asal Bandar Kidul, Kediri itu. Namun siapa sangka jika peminat sarung goyor hingga mancanegara, terutama masyarakat Timur Tengah dan Afrika. Sarung goyor memiliki keunikan tersendiri. Keunikan yang dimaksud adalah sarung goyor mampu menyesuaikan diri dengan cuaca. Kala panas, sarung ini menjadi dingin dan Sebaliknya jika cuaca dingin, sarung goyor bisa menjadi hangat.

Sarung Goyor yang diproduksi desa Bandar Kidul ini menggunakan bahan yang berkualitas sehingga banyak pedagang sarung yang memilih produk dari para pengrajin. Sebagai gambaran bagaimana sarung tenun ATBM ini sangatlah istimewa dibanding sarung buatan pabrik, yaitu jika dilihat dari pembuatannya, satu jenis corak sarung tenun memakan waktu selama 2 minggu bahkan yang paling istimewa lagi satu sarung tenun di tempuh dalam 14 tahap.

Banyak para pedagang grosir sarung yang memesan corak yang dinamis dan cenderung beragam. Apalagi menghadapi lebaran setelah Ramadhan, sarung tenun banyak sekali diburu oleh konsumen yang kebanyakan warga masyarakat yang beragama Islam.

Untuk itu, jelang bulan suci Ramadhan, permintaan kain sarung sangat meningkat drastis, tak terkecuali perajin sarung tenun goyor. Para perajin sarung goyor ini menikmati kenaikan pesanan hingga dua kali lipat atau 100%. Dengan demikian, omzet para perajin itu pun juga bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Kehadiran bulan suci Ramadhan tak hanya membawa berkah secara spritual. Bulan Ramadhan atau bulan puasa juga bisa mendatangkan rezeki yang berlimpah. Banyaknya pesanan membuat untuk mengatasinya para pengrajin yang ada di desa Bandar Kidul ini lebih memaksimalkan sumber daya yang ada dengan melemburkan para karyawannya.

Sarung tenun goyor buatan desa Bandar Kidul kota Kediri ini menjadi kebanggaan warga Kediri pada khususnya dan rakyak Indonesia pada umumnya. Karena ditengah modernisasi ini masih ada kerajinan yang masih memanfaatkan alat tradisional, padahal kalau kita lihat di negara barat alat pembuatan tenun ini sudah tidak ada bahkan sudah ditinggalkan sejak ratusan tahun lalu.

Semoga semakin banyak yang menggunakan sarung tenun goyor buatan warga Bandar Kidul dan bisa membuat kelangsungan pelestarian kerajinan tradisional kekayaan bangsa Indonesia. Dan yang paling utama banyak orang Indonesia yang mencintai produk-produk sarung tenun buatan asli Indonesia.

Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Sukmawati Sukarno Putri Dukung Pelestarian Tenun Ikat

Tenun Ikat
Sukmawati Sukarno Putri mempunyai perhatian kepada upaya pelestarian tenun ikat kuno peninggalan leluhur Karangasem, yakni tenun ikat, utamanya tenun ikat Tenganan Pengringsingan. Hal itu disampaikan Sukmawati ketika bertandang ke Art Shop Salila milik dari tokoh muda Bali, Gorsi, yang selama ini dikenal sebagai penggiat dan pelestari batik kuno di Indonesia.

Gorsi yang kerap mengikuti pameran industri teksil didalam dan luar negeri ini sangat antusias menjawab pertanyaan dari Putri Proklamator RI itu serta menjelaskan beragam jenis tenun ikat khas Bali khususnya Karangasem.

”Saya sangat salut, ada anak muda Bali dari Karangasem yang benar-benar memahami dan menguasai mengenai sejarah tenun ikat. Dan dengan usahanya sendiri, Gorsi mampu mengharumkan nama bangsa untuk melestarikan budaya nasional yakni tenun ikat Bali. Semoga saja, usaha Gorsi mendapatkan perhatian dari semua pihak” ungkap kekaguman Sukmawati Sukarno Putri.

Dalam kesempatan itu, Gorsi juga menunjukkan contoh motif dan koleksi tenun ikat Karangasem yang berusia lebih dari 200 tahun kepada Sukmawati. Dia menjelaskan bahwa dirinya saat ini sedang melacak keberadaan motif-motif kuno asli Karangasem.

”Saat ini saya sedang fokus untuk mengumpulkan tenun ikat kuno peninggalan leluhur. Kita ada reproduksi lagi segera. Ini bertujuan agar peninggalan leluhur tidak hilang begitu saja.” ungkap pengusaha yang juga pernah mengikuti pameran tekstil di Thailand tersebut.

”Sayang sekali kita masih tergantung material dengan China dan India. Kedepan Indonesia harus mandiri memproduksi bahan tekstil. Dan besar harapan saya pada Ibu Sukmawati Sukarno sebagai tokoh nasional, memberikan kepedulian pada pada seniman,” kata Gorsi.

Setelah meninjau beragam macam tekstil, Sukmawati memberikan cinderamata pada Gorsi berupa foto ayahnda Bung Karno. ”Jangan menyerah, Bung Karno akan sangat bangga dengan anak muda yang mengharumkan nama bangsa seperti Gorsi,” pungkas Sukmawati Sukarno Putri.
(thesukarnocenter.com)

Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Membangun Industri Mode Indonesia

Tenun Ikat
Sedari awal, tujuan diadakannya Indonesia Fashion Week (IWF) yang dirilis pada Februari 2012 adalah sebagai etalase yang bisa menunjukkan kepada dunia potensi besar industri mode Indonesia. Tapi tidak hanya itu, IFW juga punya beban berat untuk dipanggul, yakni sebagai kendaraan guna menjalankan cita-cita besar, Indonesia sebagai kapital mode dunia, sejajar dengan New York, London, Milan dan Paris.

IFW sendiri dicanangkan oleh salah satu organisasi mode besar di Indonesia, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang didukung empat kementrian, yakni Kementrian Perdagangan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), serta Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

”Sebagai asosiasi, kami melihat bahwa Indonesia belum punya ‘the real fashion week’ yang tidak hanya mempertunjukkan acuan tren terbaru, tapi juga punya pameran dagang tersendiri yang menonjolkan sisi business to business,” terang Direktur Indonesia Fashion Week, Dina Midiani, saat berbincang dengan beberapa media di butik Lenny Agustin di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

”Selama ini, jikapun ada, pameran dagang di sebuah perhelatan fashion lebih mengarah ke perdagangan ritel, yang kurang bisa mendorong bisnis mode secara luas,” papar Dina. Selain itu, Dina juga menambahkan secara branding, Indonesia pun masih belum punya nama di dunia internasional. ”Padahal potensinya ada, tapi belum digarap secara maksimal,” katanya.

Disitulah IFW memfokuskan diri. Menjadi sebuah pekan mode dengan platform internasional, dimana kedepannya IFW bisa menjadi tempat buyer-buyer mancanegara berbelanja, mencari produk-produk potensial untuk dijual di negaranya, sekaligus memperkenalkan referensi tren mode versi pelaku mode Indonesia. IFW juga merupakan pekan mode pertama yang mengombinasikan fashion show dengan pameran dagang produk fashion, seminar edukatif, talkshow juga kompetisi bagi entrepreneur fashion.

Tapi, sebuah cita-cita besar seperti itu tentu tidak bisa langsung terwujud. Butuh perencanaan dan strategi yang digodok matang, dan terlebih butuh pelaku yang komitmen untuk terus menjalankannya. ”Karena itu dibutuhkan roadmap, dibutuhkan blueprint atau cetak biru untuk membangun mode menjadi sebuah industri,” tegas Dina.

Kabar baiknya, sinergi kerjasama antara pelaku mode dan pemerintah sudah semakin erat terjalin. Bahkan kini mode punya ”rumah” sendiri di Kemenparekraf. ”Sebelumnya kita cuma ngekos-ngekos di berbagai kementrian. Kini kita sudah punya rumah sendiri sehingga masa depan industri mode ini bisa lebih cerah,” tutur Dina.

Berbicara mengenai potensi industri mode, data dari Kemenparekraf menunjukkan bahwa dari 15 bidang ekonomi kreatif yang diurusi kementrian, fashion menjadi salah satu kontributor terbesar dengan nilai sumbangan pendapatan sebesar Rp 71,98 triliun di bidang ekspor pada 2010.

”Subsektor fashion selalu menjadi kontributor tertinggi pada nilai ekspor industri kreatif sejak 2002 hingga 2010,” kata Direktur Desain dan Arsitektur pada Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan IPTEK Kemenparekraf, Poppy Savitri.

”Tahun ini ada sekitar 10 negara yang akan ikut berpartisipasi di pameran dagang dan ada juga yang ikut show,” kata Dina, sembari menunjukkan beberapa negara yang akan ikut serta adalah Jepang, Thailand, Malaysia, Italia dan Australia. ”Tentu saja ini menjadi kabar gembira bagi kami karena awalnya kami masih menargetkan pasar domestik hingga tahun 2015 nanti,” sambungnya.

Tapi, bergabungnya beberapa negara tersebut menjadikan IFW 2013 harus mempercepat langkah. ”Kami menjadikan 2013 ini sebagai langkah awal menuju dunia internasional,” tegas Dina. Untuk itu, panitia IFW 2013 sudah mengkurasi sekitar 100 pelaku mode yang dipersiapkan menerima pesanan buyer internasional. ”Jangan sampai buyer datang kemudian kecewa, karena itu kami ingin menjadikan tahun ini sebagai transisi IFW dari business to consumer (b2c) menjadi business to business (b2b),” kata desainer yang sudah berpengalaman di dunia mode selama hampir dua dekade tersebut.

Adapun IFW 2013 yang mengambil tema ”Inspiring Indonesia” akan diikuti 503 peserta, dengan 208 desainer yang terlibat di 16 fashion show, dimana sebanyak 2342 busana akan dipamerkan. (lesthia kertopati)

Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Tenun Ikat Sambas Yang Cantik Yang Tercabik

Tenun Ikat
Warna indah dan motif yang cantik membuat tenun asal Sambas ini terlihat istimewa. Namun, keberadaan tenun yang berciri khas motif pucuk rebung ini harus melewati fase sulit untuk kembali bersinar.

Tak mudah memang untuk mencapai daerah ini. Butuh waktu 6 hingga 7 jam dari Pontianak untuk sampai Dusun Semberang, Desa Sumber Harapan, Sambas, Kalimantan Barat. Dari Pontianak ke Sambas perjalanan bisa dilakukan dengan mobil. Jalan aspalnya cukup bagus, hanya saja tidak terlalu lebar. Nah, begitu dari Kota Sambas ke Desa Semberang, akses infrastruktur boleh dibilang kurang. Jalan rusak dan belum beraspal membuat orang memilih naik perahu melewati sungai.

Dari Sambas perjalanan naik perahu biasanya dimulai dari sebuah dermaga kecil dekat Keraton Sambas. Menyusuri Sungai Sambas memang membawa pengalaman tersendiri. Pemandangan rumah panggung di bibir sungai, rumah terapung, hingga anak-anak yang asyik mandi di sungai bisa menjadi hiburan tersendiri. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di Dusun Semberang. Sebuah desa yang dikenal sebagai salah satu sentra tenun di Kalimantan Barat. Perjalanan yang panjang seolah terbayar saat mata dimanjakan beragam tenun khas Sambas yang cantik.

Tak seperti tenun di daerah lain, Sambas memiliki tenun yang lembut dengan corak yang cantik. Pantas saja desainer Didi Budiardjo rela datang jauh-jauh dari Jakarta untuk berburu kain tenun di sini. Sebab, tenun ikat di sini memang sangat cantik dan menarik. Di tangannya, kain tenun berhasil disulap menjadi rangkaian busana yang elegan dan trendi. Dan itu menjadi salah satu karya besarnya yang ditampilkan di gelaran Jakarta Fashion and Food Fashion (JFFF) yang dihelat di Kelapan Gading, Jakarta, beberapa waktu lalu.

”Pertama kali saya melihat songket Sambas, bagaikan mendengar alunan suara dari jalinan benang emas yang membentuk alunan motif. Pengaruh Hindu, China, Melayu dan Arab membaur mewujudkan bentuk- bentuk yang dinamis dan agung,” ungkap desainer Didi Budiardjo sebelum pagelaran busana JFFF.

Ya memang tenun ikat dari Sambas memiliki karakter tersendiri. Tenun Sambas memiliki warna-warna cerah cukup beragam, seperti warna merah manggis, oranye, warna paru (pink), hijau dan hitam. Harga kain tenun Sambas bervariasi, bergantung pada kualitas bahan dan tingkat kesulitan motif tenunan. Tenunan berbahan poliester bisa didapat dengan rentang harga ratusan ribu rupiah. Namun, tenunan berbahan katun atau sutera harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Selain bahan benang, motif juga sangat memengaruhi harga tenun ini.

Proses pembuatan tenun Sambas relatif sulit dan rumit. Untuk mempunyai keahlian menenun, seseorang membutuhkan waktu minimal dua tahun untuk belajar. Keahlian menenun sangat berpengaruh terhadap hasil tenunan yang dihasilkan. Semakin mahir seseorang menenun, motif tenunan yang dibuat juga biasanya semakin rumit dan sulit. Semakin sulit dan rumit motif yang dibuat, semakin mahal harga tenunan yang dihasilkan. Waktu yang diperlukan untuk membuat satu lembar kain tenun relatif bervariasi. Selain faktor kemahiran penenunnya, lamanya waktu yang diperlukan bergantung pada motifnya. Semakin sulit motifnya, semakin lama waktu yang diperlukan. Jika motifnya relatif sulit, dalam sebulan seorang penenun terkadang hanya mampu menghasilkan selembar kain. Tapi jika motifnya biasa, dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu atau lebih cepat.

Salah satu ciri khas tenun Sambas adalah motif pucuknya. Motif pucuk rebung berbentuk segi tiga, memanjang, dan lancip. Disebut pucuk rebung karena merupakan stilirisasi dari tunas bambu muda. Penggunaan pucuk rebung sebagai ciri khas tenun ini bukan sebuah kebetulan, tetapi memiliki makna yang luas dan mendalam. Sedikitnya ada tiga makna dari penggunaan motif ini sebagai ciri khas. Pertama, sebagai pengingat agar orang-orang Sambas terus berupaya untuk maju. Pucuk rebung adalah bagian dari pohon bambu yang terus tumbuh dan tumbuh. Semangat terus tumbuh inilah yang ingin disampaikan oleh motif ini. Kedua, orang Sambas harus senantiasa berpikiran lurus, sebagaimana tumbuhnya pucuk rebung. Pucuk rebung selalu tumbuh lurus hingga menjulang tinggi. Ketiga, jika mencapai puncak tertinggi, tidak boleh sombong dan arogan, sebagaimana pohon bambu yang selalu merunduk ketika telah tinggi.

Namun, semangat untuk menjulang tinggi itu justru kontroversi dengan kondisi nyatanya. Popularitas tenun Sambas boleh dibilang redup di antara tenunan dari daerah lain. Bali, Palembang dan Lombok misalnya. Berbagai persoalan melilit para perajinnya. Soal bahan baku dan pemasaran mengangah di depan mata.

”Para perajin sulit mendapatkan pasokan benang tenun katun dan sutra. Mereka juga sulit memasarkan produk mereka,” kata Sjamsidar Isa dari Cita Tenun Indonesia (CTI).

Namun, sejak Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Garuda dan CTI masuk ke Sambas dan memberikan pembinaan, pelan-pelan soal tersebut bisa diatasi. CTI terus menjembatani pengadaan benang yang didatangkan dari Bali dan Surabaya. Begitu juga soal pemasaran. Para penenun binaan PKBL Garuda dan CTI ini juga kerap diajak ke Jakarta untuk pameran.

Namun, itu pun belum menyelesaikan masalah. Masih ada masalah besar yang mereka hadapi. Kini beberapa desa yang menjadi sentra tenun sudah mulai kehilangan para penenunnya. Miris memang. Para penenun pun memilih untuk menjadi pekerja tenun di Brunai atau Malaysia. Sjamsidar Isa juga sangat menyayangkan nasib tenun Sambas ini. ”Padahal, dulu tenunan Sambas banyak dipasarkan hingga ke Sumatera. Namun, sekarang sebulan belum tentu laku satu kain sehingga banyak penenun daerah ini bekerja menenun di Brunai dan Serawak, Malaysia,” ujar pendiri Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI).

Karena itu, revitalisasi industri tenun rakyat, termasuk melalui produk mode, menjadi amat penting. ”Kami dari CTI dan Garuda masuk ke sini memiliki tujuan yang jelas. Untuk menyelamatkan tenun ini. Kami mengharapkan mereka yang memilih menjadi penenun di negara tetangga untuk pulang kampung. Mari sama-sama kita besarkan tenun Sambas ini,” harap Sjamsidar. (wuri hardiastuti)

Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Indahnya Imajinasi Tenun Ikat Sukarara

Tenun Ikat
Tak, tuk, tek, tek... Di desa ini, ramai terdengar suara alat tenun di lorong-lorong jalan. Para ibu dan anak-anak perempuan tampak sibuk nyensek di beruga. Beginilah suasana sehari-hari di desa Sukarara.

Nyensek adalah kegiatan menenun. Nah, biasanya kegiatan ini dilakukan di beruga. Beruga merupakan pondok kecil untuk bersantai dan duduk-duduk di depan rumah.

Desa Sukarara terletak di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Desa ini merupakan desa penghasil tenun Lombok yang terkenal. Hampir setiap rumah di desa ini memiliki gedogan. Yaitu, alat tenun tradisional khas Lombok.

Hmm, tahukah, Anda? Semua perempuan asli Lombok harus bisa menenun. Sebab, menurut kepercayaan di Lombok, perempuan yang belum bisa menenun, belum boleh menikah. Jadi, seorang anak perempuan di desa ini, biasanya sudah diajarkan menenun sejak berusia 7 tahun.

Tenun ikat Sukarara masih dibuat dengan cara tradisional. Biasanya, perajin tenun menenun tanpa membuat pola. Semua motif, corak, atau pola hanya ada dalam imajinasi sang perajin. Hmm, hebat, bukan? Berarti, boleh dibilang, para perajin tenun di sini memiliki imajinasi yang indah!

Tenun Ikat
Coba lihat hasil imajinasi mereka, yang berupa kain tenun ikat berwarna-warni. Indah, kan? Selain harus pandai berimajinasi, sang perajin tenun juga harus memiliki kesabaran yang tinggi. Bayangkan saja! Penenun harus menjalin lembar demi lembar benang hingga menjadi sehelai kain. Apalagi, dengan menggunakan gedogan, kain yang dihasilkan hanya bisa selebar 60 cm saja.

Jadi, kalau si penenun ingin membuat sarung selebar lebih dari 60 cm, dia harus menenun lagi. Setelah itu, barulah tenunan-tenunan itu digabungkan. Tentu saja, semua itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Oh ya, bahan pewarna kain tenun di desa ini pun masih dibuat dengan cara alami. Misalnya untuk warna oranye dibuat dari batang asam. Warna ungu dibuat dari batang talas. Karena itu, tak heran kalau harga tenun ikat Sukarara jadi mahal. Sebab, untuk membuatnya, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang luar biasa.

Tenun ikat Sukarara memiliki beraneka motif khas Lombok. Ada motif tokek, kuda terbang, paresean, dan yang paling terkenal adalah motif subahnale. Kata subahnale berasal dari bahasa Arab, Subhanallah . Yang artinya, Maha Suci Allah.

Subahnale merupakan lambang kekaguman dan keheranan. Ini karena pada zaman dulu, orang Lombok hanya bisa membuat tenun dengan motif sederhana. Sedangkan subahnale adalah motif yang rumit. Sehingga, orang-orang terkagum-kagum pada motif tersebut, dan menyebut, subhanallah. Selain pandai berimajinasi dan memiliki kesabaran tinggi, para penenun di Sukarara juga kreatif memberi nama ! (Dwi)

(kidnesia.com)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Goyor Contrary in JFW 2013 by Restu Anggraini

Restu Anggraini, Perempuan lulusan Esmod Jakarta dan Phalie Art Studio ini berhasil membangun karirnya melalui situs jejaring sosial. Dan dalam jangka waktu dua tahun, produk-produk Restu kini dapat ditemui dengan mudah di beberapa outlet di Jakarta.

Dengan rancangan yang kontemporer, modern dan edgy, koleksinya didominasi oleh warna-warna primer. Restu juga mendesain aneka dress dengan cutting yang unik dan beberapa atasan asimetris yang menjadi produk paling favorit para konsumen.

Pada Jakarta Fashion Week kali ini Etu sapaan akrab dari Restu Anggraini mengusung tema GOYOR CONTRARY. Etu memperkenalkan keindahan kain sarung Goyor asal Pemalang Jawa tengah. Dalam karyanya, Etu tetap mempertahankan ciri khas yang edgy dan glamour serta diperkuat oleh warna-warna yang bold.

Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar
Tenun Ikat Bandar

Patut diacungi jempol, keberanian Restu untuk mengangkat sarung Goyor Pemalang yang relatif belum dikenal, bahkan oleh penduduk lokal sekalipun. Kecermatan untuk memilih padanan dan desain yang sesuai, dengan motif dan warna kain goyor yang cenderung homogen. Restu memilih warna hitam yang dominan sebagai kanvas untuk dikombinasikan dengan kain goyor, dengan material metallic, leather dan satin untuk menambahkan unsur mature dan glamour.


Properties : okezone.com
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Alfonsa Raga Horeng, Sosok Pelestari Tenun Ikat Flores (II)

Tenun Ikat
Anak Muda Jadi Dilema
Meski sukses membangun sentra tenun ikat di Sikka, Maumere, Flores, Alfonsa mengaku masih menghadapi dilema. Satu sisi, ia ingin tenun ikat bernilai adat tetap lestari, di sisi lain ia juga ingin menggandeng lebih banyak anak muda Flores untuk mencintai akar budayanya, memelihara tenun bersamanya.

Namun anak muda, katanya, mudah tergiur dengan pekerjaan bergengsi di desa, menjadi pegawai negeri sipil. Atau menjalani pekerjaan lain yang mendatang uang lebih cepat, dibandingkan menenun.

"Perempuan banyak dirasuki mengenai pekerjaan sebagai PNS. Generasi muda anggap remeh tenun," ungkapnya.

Dukungan dari pemerintah yang memberikannya mesin ATBM, memberikan solusi. Alfonsa juga terbuka pada masukan yang diterimanya, untuk memberdayakan perempuan muda, memproduksi tenun namun bukan dengan menggunakan alat tenun gedog yang tradisional. Kain tenun ATBM yang lebih tipis, dengan motif yang sama seperti tenun ikat, kemudian diciptakan. Namun bukan kain yang diperdagangkan, melainkan tenun yang dihadirkan dalam bentuk tas atau busana siap pakai.

Sejumlah desainer ternama juga melirik sentra tenun yang dikelola Alfonsa. Mereka mencipta produk fashion berkualitas dari kain tenun ATBM berkualitas buatan para seniwati Flores. Alfonsa menyebut sejumlah nama desainer ternama Indonesia, seperti: Anne Avantie, Stephanus Hammy, Priyo Oktaviano, Lenny Agustin, Samuel Wattimena, Ghea Panggabean.

Alfonsa memimpin sentra utama tenun ikat di Flores, melibatkan 38 penenun aktif. Sentra tenun juga memiliki cabang di desa-desa, dengan setiap desa memiliki 2-3 cabang. Masing-masing cabang di desa memiliki 4-22 penenun. "Dukungan dari kepala desa sangat penting dan berpengaruh. Ada satu desa yang memiliki 143 penenun karena kepada desanya menggerakkan kaum perempuan untuk menenun," tutur Alfonsa.

Satu desa juga memiliki motif tenun yang berbeda dengan desa lainnya. Sepanjang perjalanannya menggali ilmu tenun, Alfonsa menemukan ada 81 motif tenun berbeda di tiga wilayah di Sikka, Flores. Kekayaan motif tenun ini menjadi benda seni bernilai ekonomi tinggi. Adalah tanggung jawab personal bagi Alfonsa, untuk menyadarkan kembali masyarakat Flores mengenai nilai tenun ikat ini. "Minimal, sehelai kain tenun ikat dari benang pintal dan warna alam untuk ukuran tiga meter kali 90 cm, bernilai Rp 3,5 juta," ungkap Alfonsa.

Namun menjadi dilema bagi Alfonsa, karena untuk anak muda, nominal ini tak ada nilainya jika harus diupayakan dalam waktu lama. "Prosesnya lama dan uangnya didapatkan juga lama, ini yang menjadi kendala bagi anak muda. Mereka hanya melihat profit," jelas Alfonsa.

Adalah juga dilema, ketika Alfonsa harus mempertahankan tenun ikat yang dibuat secara tradisional, sambil juga memberdayakan kalangan perempuan muda untuk kembali tertarik pada tenun, melalui produksi tenun ATBM, dan proses menjahit berbagai produk fashion siap pakai. "Kedua hal ini sangat berbeda, namun keduanya tetap diperlukan untuk saling mendukung dan menyeimbangkan, selain juga mengajak anak muda untuk kembali mencintai tenun," tutur Alfonsa.

Tenun Ikat
Sukses Dengan Dukungan Orangtua
Alfonsa berasal dari keluarga sederhana, dengan ayahnya Apolonarius (almarhum) dan ibunya Theresia Bajo, berprofesi sebagai guru. Kedua orangtuanya punya pengaruh besar atas pencapaian yang diraihnya kini. Alih-alih menuntut Alfonsa untuk menjadi pegawai negeri atau bekerja pada orang lain, Alfonsa mengakui orangtuanya justru mendorong dirinya untuk mengembangkan kampung halamannya.

"Saya selalu dipesannya, jangan menjadi kuli seperti mereka. Jarang ada orang kampung bersekolah tinggi. Setelah sekolah, bantu kampung, tunjukkan kepada mereka bagaimana orang sekolahan itu bekerja," tutur perempuan yang lantang bicara di panggung dunia, namun tetap merendah saat ia berada di negerinya sendiri.

Orangtua Alfonsa memberikan dukungan penuh kepada upaya putrinya melestarikan tenun ikat adat. Bukan hanya memotivasi, namun juga memfasilitasi. Salah satunya mendirikan sentra tenun ikat menggunakan tanah milik orangtua, terletak di pinggir jalan utama, yang kerap menarik perhatian turis mancanegara.

STILL yang berlokasi di Jalan Don Slipi, desa Nita, Sikka, Maumere, Flores tak hanya pusat pembuatan tenun namun juga wisata alam dan budaya. "Plang nama sentra tenun menarik perhatian turis yang lewat. Biasanya mereka berkelompok 25 orang. Biasanya saya mengajak mereka ke sentra untuk melihat pembuatan tenun ikat dan pada akhirnya mereka berbelanja. Namun sebelum itu, saya ajak mereka jalan kaki 150 meter melewati pemandangan alam desa, menuju sentra tenun utama. Mereka kemudian menerima penyambutan secara tradisi, dilengkapi makanan, tarian tradisional," jelas penerima penghargaan She Can 2009 dari Tupperware ini.

Alfonsa tak hanya berhasil mengembangkan tenun ikat di desanya. Ia juga kerap diundang menjadi pembicara dalam workshop tentang tenun ikat di luar negeri. Belum lama ini, Alfonsa terpilih sebagai delegasi Indonesia untuk kegiatan ISEND2011 di kota La Rochelle Perancis. Ia juga hadir sebagai undangan di kegiatan bursa pariwisata dunia di London. Tak hanya itu, atas kontribusinya, ia juga banyak mengumpulkan penghargaan tingkat nasional dan internasional. Kartini Award sebagai Perempuan Inspiratif Se-Indonesia, Meexa Award, Australian Leadership Award adalah sejumlah penghargaan yang diterimanya.

Penghargaan merupakan bentuk pencapaian personal. Namun, bagi Alfonsa masih ada impian yang disimpannya. Pelestarian warisan budaya menjadi perhatian dan kepeduliannya. Melihat berbagai respons positif dunia akan warisan budaya Indonesia, Alfonsa berharap, suatu saat Indonesia memiliki lembaga pendidikan yang khusus mengembangkan kain nusantara.

"Perlu ada akademi tenun, akademi batik, karena Indonesia punya banyak guru yang ahli pada bidang itu. Jangan masukkan ilmu menenun dan membatik sebagai kurikulum, tetapi dirikan akademi khusus untuk itu," harap Alfonsa. (Habis) (Artikel Sebelumnya di Bagian I)

(sumber:kompas.com)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap

Alfonsa Raga Horeng, Sosok Pelestari Tenun Ikat Flores (I)

Tenun Ikat
"Kami bukan perajin. Saya selalu bilang itu pada media, pada ibu menteri dan duta besar. Tenun ikat adalah seni bernilai tinggi, identitas budaya bangsa bernilai folk art. Pekerjanya adalah artis, mereka seniwati bukan perajin," tutur Alfonsa Raga Horeng, STP, perempuan yang lahir dan besar di Desa Nita, Kabupaten Sikka, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Alfonsa adalah sosok perempuan inspiratif dari Indonesia timur yang berani bersuara lantang memperjuangkan tenun ikat, benda seni warisan leluhurnya yang tak menarik perhatian generasi muda. Keinginan perempuan kelahiran 1 Agustus 1974 ini tak terbendung sejak 2002 untuk memelajari tenun ikat. Kemudian mendokumentasikan proses pembuatan tenun ikat khas Flores.

Atas upayanya dan intelektualitasnya, Alfonsa tak hanya berhasil menggandeng kembali generasi muda Flores untuk kembali mencintai tenun ikat bernilai adat. Anak sulung dari dua bersaudara ini juga kerap melakukan perjalanan ke luar desanya, menghadiri undangan berbagai kegiatan di Jakarta hingga terbang ke Amerika dan Eropa, bicara di forum dunia mengenai tenun ikat dari Flores.

Menggali Ilmu Tenun Ikat
Perempuan berlatar pendidikan tinggi teknologi pertanian ini pantang menyerah mendatangi satu per satu perempuan penenun di kampung halamannya. Ia belajar menenun dari generasi tua yang disebutnya guru, maestro, profesor tenun. Ia menjelajah sejumlah desa di Sikka, untuk mendalami ilmu tenun ikat yang ia yakini takkan mungkin didapatkan di belahan dunia mana pun.

"Kaum ibu usia 45 hingga nenek 90 tahun adalah tempat belajar saya. Mereka adalah maestro tenun, para profesor," jelas Alfonsa.

Sebutan guru juga profesor sengaja diciptakan Alfonsa, untuk membesarkan hati kaum perempuan yang teguh mempertahankan akar budaya. Baginya, perempuan pelestari kain tenun ikat membutuhkan dukungan untuk terus mencipta kain adat (kain yang dipergunakan untuk upacara adat) ini.

"Ibu yang masih menenun, memiliki alat tenun tradisional di rumahnya, memakai sarung di rumah, adalah contoh bagi anak-anaknya," ungkap Alfonsa.

Kepada kaum ibu di Sikka inilah Alfonsa berguru, menggali proses menenun, termasuk meramu pewarna alam dari tumbuhan, juga memahami makna di balik aneka motif kain adat. Namun ia tak sekadar belajar dan mempraktikkan proses menenun. Kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya, diwujudkannya dalam aksi nyata. Alfonsa mencatat rapi semua ilmu yang didapatinya dari sang guru, mendokumentasikan, dan membuat standar warna dan motif kain tenun ikat.

Kontribusi Alfonsa terhadap pelestarian kain tenun ikat tak berhenti sampai disitu. Ia bahkan mampu menemukan kekurangan dari setiap tenun ikat yang dibuat secara tradisional. Namun ia tak hanya mencari masalah, tapi juga memberikan solusinya.

"Warna kain tenun tidak sama, motif pecah, saya menemukan ini pada kain-kain adat. Kualitas tenun dipengaruhi proses pembuatannya, bagaimana postur tubuh penenun juga memengaruhi, tarikan saat menenun apakah halus atau kencang, teknik yang berbeda berdampak pada hasil akhirnya. Itulah sebabnya saya membuat gugus kendali mutu," jelas Alfonsa.

Tenun Ikat
Mementingkan Kualitas
Kualitas kain tenun ikat, kata Alfonsa, harus terjaga mulai dari benang pemintal, pewarna alam, orisinalitas motif. Kain tenun ikat yang berkualitas adalah kain yang punya karakter tanah leluhur, jelasnya.

Kain tenun ikat berkualitas punya nilai tinggi. Kadang, nilai inilah yang dikesampingkan oleh penenun lantaran hanya mengejar waktu pembuatan. Padahal, kain tenun ikat sepanjang tiga meter dengan lebar 100 cm dengan kualitas tinggi memiliki nilai yang sama dengan seekor kuda.

Kain tenun ikat yang merupakan kain adat, juga merupakan pemberian calon pengantin perempuan kepada calon pengantin laki-laki. "Dulu, secara adat, kain tenun ikat buatan pihak perempuan ditumpuk 10 susun, untuk kemudian pihak laki-laki memilihnya. Namun kini, biasanya pihak perempuan langsung memberikan kain tenun ikat kepada pihak laki-laki," jelas Alfonsa.

Alfonsa tak hanya giat memelajari seluk beluk tenun, dan menjadikannya dirinya bagian dari seniwati Flores dan mencipta kain tenun ikat buatan tangannya sendiri. Ia juga mahir berkomunikasi lintas generasi. Alfonsa tak canggung berbicara tegas kepada generasi di atasnya, apalagi menyangkut kualitas tenun. Meski begitu, ia juga tahu bagaimana mengambil hati orang lain di sekitarnya.

"Saya keras dengan penenun. Kesadaran penenun mengenai nilai kain tenun ikat juga perlu dibangun kembali." ungkapnya. "Tenun dibuat dengan disiplin tinggi dan ritual. Tenun, jika disimpan akan bernilai tinggi. Selama adat masih ada tenun masih dibutuhkan. Namun tenun tak ada penerusnya. Padahal tenun adat dapat dijual dengan harga tinggi," kata Alfonsa menyontohkan bagaimana ia memberikan motivasi.

Usaha Alfonsa membuahkan hasil. Pada 2006 ia berhasil mendokumentasikan kain tenun ikat. Generasi muda dan tua mulai aktif menenun dengan merepro motif yang sama, sarat nilai filosofi, dan punya pesan adat. Penenun juga tak lagi mengeluhkan proses pembuatan tenun ikat yang memakan waktu panjang, delapan hari untuk proses menenun dan total satu tahun proses keseluruhan. Satu helai kain tenun ikat sepanjang tiga meter juga tak dibuat sendirian, melainkan melibatkan hingga lima orang.

Kaum perempuan memiliki aktivitas bermakna dengan sentuhan Alfonsa. Bukan sekadar membuat kain tenun ikat sebagai hobi atau sekadar memenuhi kebutuhan keluarga, untuk acara pinangan juga saat anggota keluarga meninggal. Namun lebih memaknai tenun ikat sebagai warisan budaya yang harus dipertahankan keberadaannya.

Alfonsa, memimpin STILL atau Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun di desanya. Sentra tenun ikat ini tersebar di 17 desa di Sikka, dengan 863 penenun aktif, yang diangkat derajatnya oleh Alfonsa dengan sebutan seniwati. "Kebanyakan kaum ibu yang tak mengenal aksara, namun mereka bisa menghasilkan kain tenun ikat yang indah," tutur Alfonsa.

Penenun adalah perempuan yang memiliki pribadi keras, tegas, tangkas dan pantang menyerah. "Mereka yang tidak pernah menenun, mungkin akan mudah menyerah saat menghadapi masalah. Tapi penenun, mereka pribadi yang kuat," tandas Alfonsa. (Bersambung ke Bagian II)

(sumber:kompas.com)
Jersey Kaos Batik
Info Lengkap